Penyelidikan tanah · seluruh Pulau Jawa
Jasa CBR tanah: uji CBR lapangan dan laboratorium sesuai SNI 1738 dan SNI 1744
Nilai CBR menentukan tebal lapisan perkerasan dan kelayakan tanah dasar proyek Anda. Kami mengerjakan uji CBR lapangan maupun laboratorium untuk pekerjaan jalan, perumahan, kawasan industri, dan lahan pergudangan, lengkap dengan laporan yang bisa langsung dipakai perencana Anda.

Dasar
Apa itu uji CBR tanah dan mengapa wajib dilakukan
CBR adalah cara mengukur daya dukung tanah dasar terhadap beban. Angka yang keluar dari pengujian ini dipakai untuk menghitung tebal perkerasan, bukan sekadar melengkapi berkas.
Definisi singkat dan asal istilah California Bearing Ratio
California Bearing Ratio, atau biasa disingkat CBR, adalah pengujian penetrasi pada tanah. Pengujian ini bisa dilakukan di dalam laboratorium maupun langsung di lapangan. Prinsipnya sederhana: sebuah torak penetrasi ditekan ke dalam contoh tanah dengan kecepatan terkontrol, lalu beban yang dibutuhkan untuk menembus pada kedalaman tertentu dibandingkan dengan beban standar.
Perbandingan itulah yang menghasilkan angka CBR. Nilainya dinyatakan dalam persentase, yaitu perbandingan antara beban percobaan (test load) dengan beban standar (standard load) pada kedalaman penetrasi yang sama. Tanah dengan nilai CBR 10 persen berarti membutuhkan beban 10 persen dari beban yang dibutuhkan bahan standar California pada penetrasi yang sama.
- Apa itu: pengujian penetrasi untuk mengukur daya dukung tanah dasar.
- Dua jenis layanan: CBR lapangan dan CBR laboratorium.
- Standar: SNI 1738:2011 untuk lapangan, SNI 1744:2012 untuk laboratorium.
- Hasil yang diterima: nilai CBR, kurva beban-penetrasi, data kadar air dan kepadatan, serta rekomendasi.
- Wilayah: seluruh provinsi di Pulau Jawa.
Empat kegunaan hasil CBR
Dalam praktik, hasil pengujian CBR dipakai untuk empat hal berikut.
- Menentukan ketebalan perkerasan. Hasil pengujian dipakai untuk merencanakan berapa tebal lapisan perkerasan di atas lapisan tanah dasar yang tidak akan dipadatkan lagi.
- Membandingkan tegangan penetrasi. Nilai tegangan penetrasi suatu lapisan atau bahan tanah dibandingkan dengan tegangan penetrasi bahan standar.
- Perbandingan tekanan. Beban percobaan dibandingkan dengan beban standar dan dinyatakan dalam persentase.
- Perencanaan jalan. Hasil CBR menjadi dasar memulai pembangunan jalan dengan kekuatan sesuai yang diharapkan perencana.
Empat alasan pengujian ini tidak boleh dilewati
- Menentukan ketebalan lapisan perkerasan sejak tahap desain, sehingga tidak ada lapisan yang terlalu tipis atau berlebihan.
- Mencegah kerusakan infrastruktur. Dengan mengetahui daya dukung tanah, potensi kerusakan akibat beban berlebih bisa ditekan sebelum jalan dibuka.
- Efisiensi biaya. Pengujian ini memastikan material yang dipakai sesuai kondisi tanah, sehingga menghindari pemborosan anggaran.
- Menjamin keselamatan. Tanah yang kuat dan stabil menurunkan risiko kecelakaan akibat kerusakan struktur jalan.
Tiga faktor yang mengubah nilai CBR
Angka CBR pada satu lokasi tidak bisa dipindahkan begitu saja ke lokasi lain. Tiga hal berikut paling menentukan hasilnya.
- Kadar air. Semakin tinggi kadar air, semakin rendah nilai CBR karena tanah menjadi lebih lunak.
- Jenis tanah. Tanah lempung cenderung menghasilkan nilai CBR lebih rendah dibandingkan tanah berpasir.
- Tingkat pemadatan. Semakin padat tanah, semakin tinggi nilai CBR yang terukur.
Karena tiga faktor itu, kami selalu mencatat kadar air dan kepadatan pada titik pengujian yang sama. Dua data itu yang membuat hasil CBR bisa dipertanggungjawabkan, bukan hanya angka akhirnya.
Perencanaan
Berapa jumlah titik uji CBR yang dibutuhkan
Jumlah titik bukan angka seragam. Ia ditentukan dari panjang ruas, variasi tanah, dan spesifikasi yang dipakai pemilik pekerjaan.
Aturan minimum yang diatur standar
Ada dua aturan minimum yang perlu Anda tahu. Pertama, SNI 1738:2011 mengatur jarak minimum antar titik uji CBR lapangan, yaitu 175 mm pada tanah plastis dan 380 mm pada tanah granular. Aturan ini mencegah pengujian di satu titik memengaruhi hasil titik di sebelahnya.
Kedua, untuk pengujian dengan DCP, pedoman SE Menteri PU No. 04/SE/M/2010 mensyaratkan satu titik minimum dikerjakan duplo dengan jarak 20 cm antar titik uji. Aturan duplo ini penting diperhatikan saat menyusun metode kerja, karena berpengaruh pada perhitungan volume pekerjaan.
Faktor yang menentukan jumlah titik untuk proyek Anda
Untuk keputusan jumlah titik, lima hal berikut biasanya paling menentukan.
- Panjang dan luas area. Ruas jalan sepanjang beberapa kilometer dan lahan kawasan industri memerlukan jumlah titik yang jauh berbeda.
- Variasi jenis tanah. Bila sepanjang jalur ditemukan perubahan jenis tanah, titik pengujian perlu ditambah agar perubahan itu terwakili.
- Spesifikasi pemilik pekerjaan. Dokumen tender biasanya mengatur jumlah dan letak titik, termasuk jarak per segmen. Spesifikasi ini yang kami pegang.
- Tujuan pengujian. Uji desain awal, kontrol mutu setelah pemadatan, dan evaluasi lapis tambah punya kebutuhan titik yang berbeda.
- Riwayat data lokasi. Bila sudah ada data sondir atau uji sebelumnya, sebagian titik bisa dialihkan ke area yang paling belum terpetakan.
Yang bisa kami lakukan untuk Anda: mengusulkan jumlah dan posisi titik setelah menerima gambaran proyek dan spesifikasinya, sebelum alat masuk ke lokasi. Usulan ini kami sertakan alasannya, sehingga bisa Anda bawa ke rapat internal atau ke konsultan perencana.
Pelaksanaan
Prosedur pelaksanaan uji CBR di proyek Anda
Prosedurnya baku dan bisa Anda ikuti langkah demi langkah. Anda juga berhak menanyakan di tahap mana pekerjaan Anda berada saat ini.
Delapan tahap uji CBR laboratorium
Pengujian CBR di laboratorium mencakup urutan berikut.
- Penyiapan peralatan
Alat penetrasi, cetakan, penumbuk, cincin penguji, dan arloji penetrasi disiapkan dan diperiksa kondisinya.
- Penyiapan contoh material dan contoh uji
Material dikeringkan, disaring sesuai ukuran butir yang diizinkan, lalu ditimbang sesuai kebutuhan pengujian.
- Pemadatan
Contoh dipadatkan di dalam cetakan dengan jumlah tumbukan dan jumlah lapis sesuai variasi yang dipilih, pada kadar air yang ditentukan.
- Penentuan massa basah dan kadar air benda uji
Setelah dipadatkan, massa basah dan kadar air benda uji ditimbang dan dicatat sebagai data pendukung.
- Perendaman
Benda uji direndam untuk menirukan kondisi jenuh air, dengan pengembangan dicatat bila diperlukan.
- Uji penetrasi
Torak penetrasi ditekan ke dalam benda uji dengan kecepatan tetap, dan beban pencapaian dicatat pada interval penetrasi tertentu.
- Penggambaran kurva beban dan penetrasi
Data lapangan diolah menjadi kurva hubungan beban terhadap penetrasi untuk setiap benda uji.
- Penentuan nilai CBR
Nilai CBR dihitung sebagai perbandingan beban pada penetrasi tertentu terhadap beban standar, lalu dibaca pada kurva yang sudah dikoreksi.
Uji CBR lapangan sesuai SNI 1738:2011
Di lapangan, urutannya berbeda karena tanah diuji apa adanya. Kami memastikan pekerjaan pemadatan sudah selesai lebih dulu, karena pengujian ini dilakukan setelah pemadatan, bukan sebelumnya. Truk bermuatan alat berat diposisikan sebagai penahan beban, dongkrak CBR dipasang, lalu torak penetrasi ditekan dengan kecepatan sekitar 1,3 mm per menit.
Pada titik yang sama, kami juga mengambil data kadar air dan kepadatan. Dua data ini wajib ada dalam laporan, karena tanpa keduanya nilai CBR tidak bisa dibandingkan dengan spesifikasi pekerjaan. Bila jarak antar titik diatur, SNI 1738:2011 memberi batas minimum 175 mm untuk tanah plastis dan 380 mm untuk tanah granular agar titik yang berdekatan tidak saling memengaruhi.
Peralatan yang kami bawa ke lokasi
Kelengkapan alat menentukan lancar tidaknya pekerjaan di lapangan. Peralatan yang kami pakai untuk pengujian CBR antara lain:
- Dongkrak CBR mekanis kapasitas 10 ton dengan swivel head.
- Cincin penguji (proving ring) kapasitas 1,5 dan 3 ton, serta 5 ton untuk kebutuhan pembebanan lebih besar.
- Torak penetrasi beserta pipa penyambung.
- Arloji penunjuk penetrasi atau dial penetrasi.
- Keping beban berupa plat besi sesuai ketentuan keping beban minimum.
- Truk yang dibebani alat berat seperti vibro, excavator, atau bulldozer sebagai penahan beban, tempat dongkrak CBR dipasang.
- Dua dongkrak truk, alat penggali, alat perata, penumbuk, dan waterpas.
Pengalaman
Studi kasus: uji CBR untuk PT Pertamina
Satu pekerjaan yang paling sering kami jadikan contoh ketika membahas uji CBR adalah pekerjaan untuk PT Pertamina.
Dipercaya oleh
Latar pekerjaan
PT Pertamina menggunakan jasa PT Berkah Bumi Engineering untuk melakukan CBR test pada salah satu lokasi lahan yang akan dibangun. Pekerjaan ini termasuk pengujian CBR laboratorium, yang mana pengujian dimaksudkan untuk menentukan CBR tanah dan campuran tanah-agregat yang dipadatkan di laboratorium pada kadar air tertentu.
Konteknya sederhana: sebelum sebuah lahan dibangun, kekuatan tanahnya perlu diketahui lebih dulu. Pada pekerjaan skala besar, uji tanah menentukan apakah tanah mampu menahan beban di atasnya. Pada pekerjaan yang lebih kecil, data uji tanah juga menjadi salah satu syarat pengurusan Izin Mendirikan Bangunan.
Apa yang dikerjakan dan apa yang bisa Anda ambil
Pelaksanaannya mengikuti urutan yang sama seperti yang kami jelaskan pada bagian prosedur: penyiapan peralatan, penyiapan contoh material dan contoh uji, pemadatan, penentuan massa basah dan kadar air benda uji, perendaman, uji penetrasi, penggambaran kurva hubungan beban dan penetrasi, hingga penentuan nilai CBR.
Bila kadar air pemadatan tidak diketahui, CBR ditentukan pada rentang kadar air. Pendekatan ini yang membuat hasil pengujian tetap berguna meskipun kondisi lapangan bervariasi. Catatan pekerjaan untuk proyek Pertamina kami paparkan lebih lengkap pada bagian studi kasus di halaman ini.
Kami juga menjelaskan bahwa selain CBR, ada Standard Penetration Test dan Cone Penetration Test sebagai pengujian lain untuk mengetahui daya dukung tanah. SPT dipakai untuk memperoleh nilai kerapatan relatif, terutama pada tanah granuler yang sulit diambil sampel tak terganggunya. CPT atau sondir dipakai untuk mengetahui daya dukung tanah di lokasi yang akan dibangun, dengan cara mendorong konus secara hidrolik, mekanis, atau dengan beban bertahap. Sering kali proyek memerlukan lebih dari satu jenis pengujian, dan itu wajar.
Kami tidak menampilkan testimoni atau kutipan dari pelanggan, karena itu bukan kebiasaan kami. Yang bisa Anda periksa adalah dokumentasi pekerjaan dan catatan proyek yang kami terbitkan, termasuk pekerjaan CBR untuk PT Pertamina di atas.
Biaya
Struktur biaya jasa CBR dan cara menekannya
Kami sengaja tidak menerbitkan satu tarif seragam, karena komposisi pekerjaan tiap proyek berbeda. Yang kami rincikan justru bagian-bagiannya.
Lima komponen yang membentuk biaya
- Jumlah titik uji. Komponen yang paling mudah Anda kendalikan, karena jumlahnya mengikuti kebutuhan teknis dan spesifikasi pekerjaan.
- Jenis pengujian. CBR lapangan dan CBR laboratorium memakai alat, tenaga, dan waktu yang berbeda, sehingga komposisi biayanya juga berbeda.
- Mobilisasi. Jarak lokasi, akses jalan, dan kebutuhan truk bermuatan alat berat sebagai penahan beban memengaruhi ongkos mobilisasi.
- Kelengkapan laporan. Laporan teknis berisi kurva, data kadar air dan kepadatan di titik yang sama, serta rekomendasi, bukan hanya satu lembar angka.
- Urgensi waktu. Pekerjaan yang membutuhkan prioritas jadwal atau penggeseran alat dari pekerjaan lain berpengaruh pada penawaran.
Cara menekan biaya tanpa menurunkan mutu
Ada beberapa cara yang nyata berpengaruh, dan semuanya bisa Anda rencanakan sebelum alat berangkat.
- Satukan pekerjaan dalam satu mobilisasi. Pengujian CBR dapat dikerjakan bersamaan dengan sondir, bor SPT, plate bearing, atau pemetaan topografi dalam satu kali pengiriman alat. Ini yang paling sering menekan biaya per titik.
- Tetapkan kebutuhan pengujian sejak awal. Uji ulang akibat data yang kurang lengkap jauh lebih mahal daripada menambah satu titik di awal.
- Siapkan lokasi dan posisi truk. Truk bermuatan diperlukan sebagai penahan beban. Kondisi jalan masuk yang siap mempercepat pekerjaan.
- Ikut sertakan spesifikasi pekerjaan. Bila Anda mengirim dokumen tender atau spesifikasi pemilik pekerjaan, kami bisa menyesuaikan metode dan jumlah titik dengan syarat yang diminta, tanpa pekerjaan tambahan yang tidak perlu.
Kami tidak menuliskan tarif di halaman ini karena tarif yang sama untuk semua proyek justru menyesatkan. Kirimkan lokasi proyek, jenis pekerjaan, perkiraan jumlah titik, dan target waktu Anda. Kami balas dengan penawaran tertulis yang merinci harga per titik, apa saja yang sudah termasuk seperti alat dan tenaga kerja, serta apa yang dihitung terpisah seperti mobilisasi luar kota dan pengujian laboratorium. Konsultasi dan penyusunan penawaran tidak dikenai biaya.
Standar
Standar acuan yang kami pakai: SNI dan ASTM
Standar yang dipakai menentukan cara pengujian dan cara membaca hasilnya. Berikut acuan yang kami pegang, lengkap dengan tautan ke dokumen resminya.
SNI 1738:2011 SNI 1744:2012 ASTM D1883 ASTM D4429 AASHTO T 193 SE PU 04/SE/M/2010
| SNI 1744:2012 Metode uji CBR laboratorium | Revisi SNI 03-1744-1989 dan adaptasi AASHTO T 193 dengan modifikasi. Berlaku untuk material berbutir maksimum 19,0 mm. Contoh tanah yang dibutuhkan 35 kg untuk CBR kadar air optimum dan 113 kg untuk CBR rentang kadar air. Energi pemadatan 10, 30, atau 65 tumbukan per lapis pada kadar air optimum, dan 56 tumbukan per lapis untuk rentang kadar air. Kecepatan penetrasi 1,27 mm per menit, dengan beban standar 13 kN pada penetrasi 2,54 mm dan 20 kN pada 5,08 mm. Keping beban minimum 4,54 kg, setara tebal perkerasan sekitar 150 mm. Buka PDF SNI 1744:2012 |
|---|---|
| SNI 1738:2011 Cara uji CBR lapangan | Revisi SNI 03-1738-1989, adopsi modifikasi ASTM D 4429-04. Dipakai untuk mendapatkan nilai CBR langsung di tempat, baik untuk perencanaan tebal perkerasan maupun lapis tambah. Pengujian dibantu truk sebagai penahan beban dan dilakukan setelah pemadatan selesai, dengan kecepatan penetrasi tetap sekitar 1,3 mm per menit. Tegangan standar 0,71 kg/mm² (1000 psi) pada penetrasi 2,54 mm dan 1,06 kg/mm² (1500 psi) pada 5,08 mm. Wajib dilengkapi data kadar air dan kepadatan pada titik yang sama. Buka PDF SNI 1738:2011 |
| SE Menteri PU No. 04/SE/M/2010 | Pedoman uji CBR dengan DCP sebagai prosedur cepat evaluasi kekuatan tanah dasar dan lapis fondasi jalan, sekaligus alternatif bila uji CBR lapangan tidak dapat dilaksanakan. Buka PDF pedoman DCP |
| ASTM D1883 | Standar internasional untuk CBR laboratorium, menentukan CBR material subgrade, subbase, dan base course dari benda uji padat laboratorium, dengan ukuran partikel maksimum tiga per empat inci atau 19 mm. Edisi terbaru yang kami pegang: ASTM D1883-21. |
| ASTM D4429 | Standar internasional untuk CBR lapangan secara in place melalui beban penetrasi. Dipakai untuk evaluasi dan desain komponen perkerasan lentur, yaitu base, subbase, dan subgrade. |
| AASHTO T 193 | Acuan internasional yang diadopsi dengan modifikasi ke dalam SNI 1744:2012. Sering dipakai sebagai pembanding pada dokumen tender dan spesifikasi teknis pekerjaan jalan. |
Yang berubah pada SNI 1744:2012 dibanding versi lama
Sebagian dokumen lama masih menyebut SNI 03-1744-1989. Standar itu sudah direvisi, dan versi yang berlaku sekarang adalah SNI 1744:2012. Perbedaannya bukan sekadar penomoran, karena versi 2012 mengadopsi AASHTO T 193 dengan sejumlah modifikasi, termasuk penegasan ukuran butir maksimum, jumlah contoh yang dibutuhkan, dan aturan pembacaan hasil.
Bila nilai CBR pada penetrasi 5,08 mm lebih besar daripada nilai pada 2,54 mm, pengujian harus diulang. Apabila hasilnya tetap sama, nilai yang dipakai adalah nilai pada penetrasi 5,08 mm. Aturan ini ada di SNI 1744:2012 dan sering menjadi sumber perbedaan tafsir saat memeriksa laporan pihak lain.
Pustaka rujukan yang kami pakai
Selain standar resmi, tim kami memakai pustaka geoteknik berikut sebagai rujukan analisis dan penyusunan rekomendasi.
- Bowles, J. E. (1996), Foundation Analysis and Design.
- Das, B. M. (2017), Principles of Foundation Engineering.
- Coduto, D. P. (2010), Geotechnical Engineering: Principles and Practices.
- Holtz, R. D. & Kovacs, W. D. (2010), An Introduction to Geotechnical Engineering.
- Tomlinson, M. J. (2001), Foundation Design and Construction.
- Terzaghi, K., Peck, R. B. & Mesri, G. (1996), Soil Mechanics in Engineering Practice.
- Budhu, M. (2010), Soil Mechanics and Foundations.
- Craig, R. F. (2012), Craig's Soil Mechanics.
- Lambe, T. W. & Whitman, R. V. (1969), Soil Mechanics.
- Skempton, A. W. (1951), The Bearing Capacity of Clays.
Dua metode
CBR lapangan vs CBR laboratorium: mana yang proyek Anda butuhkan
Ini pertanyaan pertama yang biasanya diajukan kontraktor dan konsultan. Jawabannya bergantung pada tujuan pengujian dan tahap pekerjaan Anda saat ini.
| Tempat pelaksanaan | Lapangan: langsung pada tanah dasar di lokasi proyek, nilainya diukur in place. Laboratorium: pada benda uji yang dipadatkan di dalam cetakan di laboratorium. |
|---|---|
| Bahan yang diuji | Lapangan: tanah dasar apa adanya, sesuai kondisi setelah pemadatan di lokasi. Laboratorium: tanah dan campuran tanah-agregat dengan ukuran butir maksimum 19,0 mm. |
| Peralatan utama | Lapangan: dongkrak CBR yang ditahan truk bermuatan, cincin penguji, torak penetrasi, dan arloji penetrasi. Laboratorium: cetakan benda uji, penumbuk pemadat, mesin penekan penetrasi, dan cincin penguji. |
| Kapan paling tepat | Lapangan: verifikasi mutu setelah pemadatan selesai, evaluasi tanah dasar eksisting, dan penentuan lapis tambah. Laboratorium: tahap desain tebal perkerasan dan pengujian material dari sumber tertentu. |
| Kecepatan pekerjaan | Lapangan: satu titik bisa selesai dalam hitungan jam pada hari pengujian. Laboratorium: memerlukan waktu pemadatan, perendaman, lalu penetrasi, sehingga lebih panjang. |
| Keluaran | Lapangan: nilai CBR di tempat, dilengkapi data kadar air dan kepadatan pada titik yang sama. Laboratorium: nilai CBR benda uji pada kadar air tertentu, bisa berupa rentang kadar air, lengkap dengan kurva beban-penetrasi. |
| Standar acuan | Lapangan: SNI 1738:2011, adopsi modifikasi ASTM D 4429-04. Laboratorium: SNI 1744:2012, adaptasi AASHTO T 193. |
Kapan sebaiknya memilih CBR lapangan
CBR lapangan mengukur nilai secara langsung di tempat. Pengujian ini dilakukan setelah pemadatan selesai, bukan sebelum pekerjaan pemadatan berjalan. Nilai yang didapat dipakai untuk perencanaan tebal perkerasan maupun lapis tambah (overlay) pada ruas yang sudah ada.
Pilih metode ini bila pertanyaan Anda berbunyi: apakah tanah dasar yang sudah saya padatkan benar-benar memenuhi target mutu? Atau, berapa nilai CBR sebenarnya dari jalan lama saya sebelum saya tambah lapisan baru?
Kapan sebaiknya memilih CBR laboratorium
CBR laboratorium dimaksudkan untuk menentukan CBR tanah dan campuran tanah-agregat yang dipadatkan di laboratorium pada kadar air tertentu. Metode ini yang dipakai pada tahap desain, ketika tebal perkerasan harus dihitung sebelum material dipasang.
Ada satu hal yang sering dilewatkan. Bila pengaruh kadar air pemadatan tidak diketahui, CBR harus ditentukan pada suatu rentang kadar air, bukan pada satu kadar air saja. Praktik ini menirukan kondisi terburuk, misalnya saat musim hujan, sehingga desain tidak terlalu optimistis.
Soaked vs unsoaked: kapan masing-masing dipakai
Pada uji laboratorium, benda uji bisa diuji langsung (unsoaked) atau direndam lebih dulu (soaked). Perendaman menirukan kondisi tanah jenuh air, dan selisih hasilnya bisa besar. Pada satu studi, CBR soaked 1,26 persen menghasilkan tebal perkerasan 1.893 mm, sementara kondisi unsoaked menghasilkan 1.545 mm.
Contoh lain pada tanah merah di Ngeling, Jepara: nilai CBR unsoaked 10,93 persen, sedangkan soaked hanya 3,86 persen, yang masuk kategori buruk untuk tanah dasar. Karena itu, bila lokasi proyek Anda berdekatan dengan sawah, saluran, atau muka air tanah tinggi, uji soaked biasanya lebih mewakili kondisi setelah jalan beroperasi.
Kenapa hasil laboratorium dan lapangan bisa berbeda
Perbedaan hasil adalah hal wajar, bukan tanda data salah. Pada satu penelitian, rasio CBR lapangan terhadap CBR laboratorium berada pada rentang 0,57 sampai 1,73 dengan rata-rata sekitar 1,15 bila dibandingkan dengan kepadatan lapangan hasil uji konus pasir. Studi lain memakai rasio 1 banding 1,13 sampai 1,19.
Artinya, tidak ada satu angka pengali tetap. Sebaiknya data lapangan dan laboratorium dibaca bersama, bukan saling menggantikan. Pada proyek yang membutuhkan keduanya, kami mengerjakan pengujian di titik yang sama agar perbandingannya sah.
DCP sebagai alternatif cepat di lapangan
Bila uji CBR lapangan benar-benar tidak bisa dilakukan, ada prosedur cepat melalui pedoman SE Menteri PU No. 04/SE/M/2010, yaitu pengujian CBR dengan Dynamic Cone Penetrometer (DCP). Alat ini menjangkau kedalaman 90 cm di bawah permukaan, memakai penumbuk 8 kg dengan tinggi jatuh 575 mm, dan konus baja diameter 20 mm dengan sudut 30 derajat untuk tanah granular atau 60 derajat untuk tanah berbutir halus.
Satu titik DCP minimal dikerjakan duplo dengan jarak 20 cm antar titik uji, dan butuh sekitar tiga teknisi. Ukuran butir maksimum yang bisa diuji 4 cm. Perlu diingat, korelasi hasil DCP terhadap CBR laboratorium tergolong lemah: satu penelitian menemukan rasio 1 banding 1,13 sampai 1,19, penelitian lain bahkan memperoleh korelasi tidak signifikan. Karena itu hasil DCP kami sampaikan sebagai indikasi, bukan pengganti nilai CBR hasil uji langsung.
Interpretasi
Cara membaca hasil dan nilai CBR
Angka CBR tidak berarti apa-apa tanpa tafsir. Berikut cara kami menerjemahkan hasilnya menjadi keputusan teknis dan anggaran.
Tabel interpretasi nilai CBR
Sebagai gambaran umum, nilai CBR biasanya dibaca dengan rentang penilaian berikut.
| Kurang dari 3 persen | Sangat buruk. Tanah dasar umumnya perlu diperbaiki sebelum perkerasan dibangun. |
|---|---|
| 3 sampai 7 persen | Buruk. Biasanya memerlukan perbaikan, rekompaksi, atau perkuatan pada lapisan tanah dasar. |
| 8 sampai 20 persen | Sedang. Umumnya bisa dipakai dengan tebal perkerasan yang dihitung sesuai kondisi ini. |
| 20 sampai 50 persen | Baik. Daya dukung tanah dasar mendukung perkerasan yang lebih tipis. |
| Lebih dari 50 persen | Sangat baik. Umumnya dijumpai pada material berbutir kasar yang padat. |
Sebagai pembanding kasar per jenis tanah, lempung umumnya berada di kisaran 3 sampai 5 persen, lanau 5 sampai 10 persen, pasir 10 sampai 30 persen, dan kerikil 30 sampai 80 persen. Angka ini adalah kisaran umum, bukan ambang resmi. Yang menentukan tetap hasil pengujian pada titik yang Anda kerjakan, bukan tabel perkiraan.
Ambang CBR minimum tanah dasar 6 persen
Spesifikasi Umum Bina Marga dan Manual Desain Perkerasan menempatkan nilai 6 persen sebagai syarat minimum tanah dasar. Bila tanah asli Anda di bawah angka itu, ada dua jalur: memperbaiki tanahnya, atau merancang perkerasan yang lebih tebal dan lebih mahal.
Gambaran besarnya bisa dilihat pada satu studi kasus: tanah dengan CBR asli 4 persen meningkat menjadi 9,8 persen setelah distabilisasi dengan semen 9 persen. Tanah ekspansif mendapat perlakuan lebih berat, karena selain CBR perlu ditingkatkan di atas 6 persen, perbaikan subgrade dengan semen atau material timbunan terpilih bisa mencapai ketebalan minimum 600 mm menurut Manual Desain Perkerasan 2017.
Keterbatasan uji CBR dan kapan perlu uji lanjutan
Uji CBR adalah pengujian penetrasi statis yang bersifat empiris. Karena itu ia kurang merepresentasikan beban dinamis berulang yang sesungguhnya diterima perkerasan, terutama pada jalan dengan lalu lintas berat. Untuk kebutuhan seperti itu, banyak pihak melengkapi datanya dengan pengujian Modulus Resilien.
Kami akan menyampaikan keterbatasan ini secara terbuka dalam laporan, bukan menyembunyikannya. Kalau proyek Anda menuntut parameter dinamis, lebih baik uji tambahannya direncanakan sejak awal daripada terulang di tengah pekerjaan.
Hubungan nilai CBR dengan tebal lapisan perkerasan
Inilah alasan nilai CBR begitu diperhatikan: makin rendah CBR tanah dasar, makin tebal lapisan yang dibutuhkan untuk menerima beban yang sama. Selisih kecil pada angka CBR bisa berubah menjadi selisih volume material yang besar di RAB Anda.
Dampak kondisi jenuh air sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, di mana CBR soaked 1,26 persen menuntut tebal perkerasan 1.893 mm, sementara kondisi unsoaked 1.545 mm. Karena itu kami sarankan memakai nilai soaked untuk desain pada lokasi dengan muka air tanah tinggi. Keputusan memakai nilai soaked atau unsoaked sebaiknya diambil bersama perencana Anda, karena berpengaruh langsung pada volume material dan biaya pekerjaan.
Dokumen
Hasil CBR untuk perizinan dan dokumen tender
Banyak klien kami bukan kontraktor, melainkan pemilik lahan dan developer yang membutuhkan dokumen teknis untuk melengkapi berkas.
Apa yang kami sertakan dalam satu paket laporan
Laporan yang tidak lengkap bisa menjadi masalah di kemudian hari, terutama saat diperiksa konsultan atau instansi. Karena itu satu paket laporan kami memuat data mentah hasil pembacaan, hasil analisis, kurva hubungan beban dan penetrasi, serta rekomendasi yang bisa langsung dipakai perencana.
Untuk pengujian lapangan, laporan dilengkapi data kadar air dan kepadatan pada titik pengujian yang sama, karena keduanya disyaratkan SNI 1738:2011. Kami juga menyertakan dokumentasi pekerjaan, sehingga asal data bisa ditelusuri.
Dokumen teknis untuk PBG atau IMB, SLF, dan SIPA
Untuk pengurusan izin, data daya dukung tanah merupakan bagian yang sering diminta. Uji CBR memberi gambaran daya dukung tanah dasar, khususnya untuk lahan yang akan dipakai sebagai area perkerasan, jalan lingkungan, akses kendaraan, atau lapangan kerja peralatan berat.
Yang perlu Anda pastikan sejak awal adalah jenis pengujian yang diminta dalam persyaratan teknis dokumen Anda. Bila syaratnya adalah data daya dukung tanah untuk perencanaan pondasi atau bangunan, yang lebih tepat biasanya adalah uji sondir atau bor SPT. Bila syaratnya menyangkut perkerasan, jalan akses, atau lapangan, uji CBR yang dipakai. Kami bisa mengerjakan beberapa jenis pengujian sekaligus dalam satu kunjungan, sehingga Anda tidak perlu mengatur alat dari penyedia yang berbeda-beda.
Untuk keperluan tender, laporan kami disusun agar informasinya bisa langsung diangkat ke dokumen penawaran. Data disajikan apa adanya, tanpa pembulatan yang menguntungkan salah satu pihak.
Tindak lanjut
Jika nilai CBR rendah: opsi perbaikan tanah dasar
Hasil CBR di bawah ambang bukan akhir dari proyek Anda. Ada beberapa jalur perbaikan yang bisa dipilih sesuai anggaran dan jadwal.
Stabilisasi kimia dengan semen atau kapur
Stabilisasi kimia mencampur tanah dengan bahan pengikat seperti semen atau kapur, lalu dipadatkan ulang. Hasilnya bisa cukup besar: pada studi kasus yang kami kutip, CBR asli 4 persen meningkat menjadi 9,8 persen setelah stabilisasi semen 9 persen. Metode ini sering dipilih untuk tanah lempung ekspansif yang sulit diperbaiki hanya dengan pemadatan.
Rekompaksi dan penggantian material
Bila nilai CBR rendah karena pemadatan yang kurang, solusinya bisa sesederhana memadatkan ulang lapisan yang sama dengan kadar air mendekati kadar air optimum. Bila masalahnya ada pada jenis tanah, lapisan tanah atas diganti dengan material timbunan terpilih sampai kedalaman tertentu, lalu dipadatkan berlapis.
Geosintetik dan perkuatan lain
Geosintetik dipasang pada tanah dasar untuk memisahkan material dan menyebarkan beban, sehingga lapisan di atasnya bekerja lebih efektif. Untuk tanah yang daya dukungnya sangat rendah, perbaikan bisa dilanjutkan dengan grouting atau perkuatan pada kedalaman tertentu, seperti yang dipakai pada salah satu penelitian perbaikan tanah dasar jalan.
Pilihan perbaikan tidak berdiri sendiri. Nilai CBR, ketebalan lapisan yang perlu diganti, dan jenis material yang tersedia di sekitar lokasi harus dibaca bersamaan. Bila Anda memerlukan data pendukung sebelum memutuskan, kami bisa melengkapinya melalui jasa sondir tanah (CPT) untuk membaca susunan lapisan dan daya dukung tanah, atau jasa uji plate bearing untuk mengukur daya dukung langsung melalui pembebanan pelat.
Untuk estimasi awal, hasil sondir atau CPT dapat dipakai sebagai pendekatan: nilai CBR diperkirakan sekitar setengah dari tahanan konus (qc) pada lempung, dan sekitar sepertiga qc pada pasir (pendekatan Rahardjo). Pendekatan ini dipakai sebagai pembanding, bukan pengganti uji CBR langsung.
Wilayah & tim
Mengapa memilih PT Berkah Bumi Engineering
Klien yang bekerja dengan kami biasanya membandingkan tiga hal: kesesuaian standar, kelengkapan laporan, dan kecepatan pekerjaan.
Tim teknis dan peralatan
Pekerjaan CBR dikerjakan tim teknis yang menangani alat uji CBR, bukan pekerja harian. Peralatan kami mencakup dongkrak CBR mekanis kapasitas 10 ton dengan swivel head, cincin penguji kapasitas 1,5 sampai 5 ton, torak penetrasi, arloji penetrasi, keping beban, hingga truk bermuatan alat berat sebagai penahan beban.
Kami adalah perusahaan berbadan hukum, bukan perorangan. Untuk pekerjaan yang membutuhkan dokumen resmi, hal ini memudahkan proses administrasi di sisi Anda.
Melayani seluruh Pulau Jawa
Wilayah kerja kami mencakup enam provinsi di Pulau Jawa: Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Kami memilih menggarap satu pulau dengan dua kantor, bukan mengklaim seluruh Indonesia tanpa kehadiran nyata di lapangan.
- Banten dan Jabodetabek: Tangerang, Tangerang Selatan, Serang, Cilegon, Bekasi, Depok, Jakarta, dan sekitarnya.
- Jawa Barat: Bandung, Bogor, Karawang, Purwakarta, Cirebon, Sukabumi, dan kota lain di provinsi ini.
- Jawa Tengah dan DI Yogyakarta: Semarang, Solo, Magelang, Purwokerto, Tegal, Kudus, Jepara, Klaten, Yogyakarta, Sleman, Bantul, dan sekitarnya.
- Jawa Timur: Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Malang, Kediri, Madiun, Jember, Mojokerto, dan kota lain di provinsi ini.
Keuntungan cakupan wilayah ini sederhana: mobilisasi antarprovinsi menjadi lebih singkat, dan alat bisa dikirim dari kantor yang paling dekat dengan lokasi Anda.
Dua kantor: Yogyakarta dan Tangerang
Kantor pusat kami berada di Yogyakarta, dengan kantor cabang di Tangerang untuk wilayah Jabodetabek. Silakan menghubungi kami lewat WhatsApp di 0877-1313-5090 untuk konsultasi, atau datang ke kantor kami di lokasi berikut.
| Kantor Yogyakarta | Jl. Cangkringan, RT.3/RW.26, Widodomartani, Yogyakarta Melayani DI Yogyakarta, Jawa Tengah, dan provinsi di sekitarnya. |
|---|---|
| Kantor Tangerang / Jakarta | Melayani Jabodetabek, Banten, dan Jawa Barat bagian barat. |
Bila Anda memerlukan uji CBR untuk proyek jalan, kawasan industri, perumahan, atau lahan pergudangan, kirimkan gambaran proyeknya. Kami bantu menentukan jenis pengujian, jumlah titik, dan dokumen yang perlu disiapkan.
Pertanyaan umum
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa itu uji CBR tanah?
Uji CBR (California Bearing Ratio) adalah pengujian penetrasi pada tanah yang bisa dilakukan di laboratorium maupun langsung di lapangan. Sebuah torak ditekan ke dalam contoh tanah dengan kecepatan terkontrol, lalu beban yang dibutuhkan untuk menembus dibandingkan dengan beban standar California pada kedalaman penetrasi yang sama. Hasilnya berupa nilai CBR dalam persentase, yang dipakai untuk mengetahui daya dukung tanah dasar dan menentukan tebal lapisan perkerasan.
Apa perbedaan CBR laboratorium dan CBR lapangan?
CBR laboratorium diuji pada benda uji yang dipadatkan di dalam cetakan, dengan material berbutir maksimum 19,0 mm, mengikuti SNI 1744:2012. CBR lapangan diuji langsung pada tanah dasar di lokasi proyek setelah pemadatan selesai, mengikuti SNI 1738:2011 yang merupakan adopsi modifikasi ASTM D 4429-04, dan pengujiannya dibantu truk sebagai penahan beban. CBR laboratorium dipakai untuk tahap desain, sedangkan CBR lapangan dipakai untuk memverifikasi kondisi tanah yang sebenarnya.
Bagaimana cara menghitung nilai CBR?
Nilai CBR dihitung sebagai perbandingan beban yang dibutuhkan untuk menekan torak penetrasi pada kedalaman tertentu terhadap beban standar, lalu dinyatakan dalam persentase. Pembacaan utamanya pada penetrasi 2,54 mm dengan beban standar 13 kN, dan pada 5,08 mm dengan beban standar 20 kN. Bila nilai CBR pada 5,08 mm lebih besar daripada nilai pada 2,54 mm, pengujian diulang, dan bila hasilnya tetap sama, nilai 5,08 mm yang dipakai.
Mengapa nilai CBR penting untuk jalan?
Nilai CBR menentukan berapa tebal lapisan perkerasan yang dibutuhkan di atas tanah dasar. Semakin rendah nilai CBR, semakin tebal perkerasan yang diperlukan untuk menerima beban yang sama. Karena itu nilai CBR berpengaruh langsung pada volume material, biaya pekerjaan, dan umur layanan jalan. Hasil pengujian juga dipakai untuk memastikan material yang dipasang sesuai kondisi tanah, sehingga menghindari pemborosan anggaran.
Berapa harga test CBR tanah per titik?
Kami tidak menerbitkan tarif seragam, karena biaya ditentukan oleh jumlah titik uji, jenis pengujian (lapangan atau laboratorium), mobilisasi, kelengkapan laporan, dan urgensi waktu. Komposisi tiap proyek berbeda, sehingga penawaran kami bersifat per proyek. Kirimkan lokasi, jenis pekerjaan, perkiraan jumlah titik, dan target waktu Anda, lalu kami balas dengan penawaran tertulis yang merinci harga per titik, apa saja yang termasuk, dan apa yang dihitung terpisah. Konsultasi tidak dikenai biaya.
Pentingkah dilakukan test CBR tanah?
Penting, terutama bila proyek Anda melibatkan perkerasan, jalan akses, lapangan, atau area kerja alat berat. Tanpa data CBR, tebal perkerasan hanya diasumsikan. Akibatnya ada dua risiko: perkerasan terlalu tipis sehingga cepat rusak, atau terlalu tebal sehingga anggaran terbuang. Pengujian ini juga membantu memastikan material yang dipakai sesuai kondisi tanah setempat.
Kapan CBR lapangan lebih tepat daripada CBR laboratorium?
CBR lapangan lebih tepat bila pekerjaan pemadatan sudah selesai dan Anda perlu memverifikasi mutu tanah dasar yang sebenarnya, atau saat mengevaluasi ruas jalan lama untuk menentukan lapis tambah. Pada kondisi ini, nilai yang dibutuhkan adalah nilai di tempat, bukan nilai dari benda uji yang dipadatkan di laboratorium. Bila uji CBR lapangan tidak bisa dilakukan, SNI 1738:2011 mengarahkan pengujian ke laboratorium dengan benda uji tidak terganggu.
Berapa lama hasil uji CBR keluar?
Waktu pengujian berbeda antara lapangan dan laboratorium. Pada pengujian lapangan, satu titik bisa selesai dalam hitungan jam pada hari pengujian. Pada pengujian laboratorium, ada tahap pemadatan, penentuan massa basah dan kadar air, perendaman, lalu uji penetrasi, sehingga waktu pengerjaannya lebih panjang. Lama penyusunan laporan akhirnya bergantung pada jumlah titik dan kelengkapan data pendukung dari lokasi Anda. Kami sampaikan estimasi jadwal bersama penawaran.
Apakah melayani seluruh Pulau Jawa?
Ya. Wilayah kerja kami mencakup enam provinsi di Pulau Jawa: Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Kami memiliki kantor pusat di Yogyakarta dan kantor cabang di Tangerang untuk Jabodetabek, sehingga mobilisasi ke lokasi Anda bisa dimulai dari kantor terdekat.
Apakah uji CBR bisa dipakai untuk perizinan IMB/SLF/SIPA?
Data uji CBR dapat melengkapi dokumen teknis Anda, khususnya untuk lahan yang akan dipakai sebagai area perkerasan, jalan akses, atau lapangan. Namun jenis pengujian yang disyaratkan bergantung pada persyaratan teknis dokumen Anda: bila yang diminta adalah data daya dukung tanah untuk pondasi bangunan, uji sondir atau bor SPT yang lebih tepat, sedangkan untuk perkerasan dan jalan akses, uji CBR yang dipakai. Sebaiknya kirim persyaratan teknis tersebut ke kami agar jenis pengujiannya tidak salah pilih.
Berapa jumlah titik uji CBR minimum untuk satu ruas jalan?
Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua ruas. Standar mengatur jarak minimum antar titik uji, yaitu 175 mm pada tanah plastis dan 380 mm pada tanah granular menurut SNI 1738:2011, serta aturan duplo dengan jarak 20 cm untuk pengujian DCP menurut SE Menteri PU No. 04/SE/M/2010. Jumlah titik untuk satu ruas ditentukan oleh panjang ruas, variasi jenis tanah, spesifikasi pemilik pekerjaan, dan tujuan pengujian. Kami usulkan jumlah dan posisi titik setelah menerima gambaran proyek serta spesifikasinya.
Apa yang harus dilakukan bila nilai CBR tanah di bawah 6 persen?
Nilai 6 persen adalah syarat minimum tanah dasar menurut Spesifikasi Umum Bina Marga dan Manual Desain Perkerasan. Bila hasil pengujian di bawah angka itu, ada dua jalur: memperbaiki tanahnya atau merancang perkerasan yang lebih tebal. Perbaikan bisa berupa stabilisasi dengan semen atau kapur, rekompaksi bila masalahnya pada pemadatan, penggantian material sampai kedalaman tertentu, pemakaian geosintetik, atau grouting. Pada satu studi kasus, CBR asli 4 persen naik menjadi 9,8 persen setelah stabilisasi semen 9 persen. Pilihan yang paling tepat bergantung pada jenis tanah dan anggaran Anda, dan sebaiknya diputuskan bersama perencana.
Layanan lain dari tim yang sama
Butuh uji CBR untuk tanah dasar proyek Anda?
Kirim lokasi dan rencana perkerasan Anda. Kami balas dengan usulan jumlah titik, metode uji, dan penawaran tertulis.