Mesin uji CBR laboratorium dengan proving ring dan dial gauge

CBR Laboratorium vs CBR Lapangan: Kapan Dipakai


CBR laboratorium dan CBR lapangan menghasilkan angka dengan satuan yang sama, yaitu persen, tetapi keduanya menjawab pertanyaan berbeda. Angka laboratorium menggambarkan potensi material timbunan bila dipadatkan pada kepadatan tertentu. Angka lapangan menggambarkan kondisi lapisan yang sudah ada saat diuji. Mempertukarkan keduanya tanpa memahami perbedaan itu termasuk sumber kesalahan yang sering muncul dalam perencanaan perkerasan dan lantai bangunan.

Perbedaannya berakar pada benda uji. Di laboratorium, tanah diambil, dikeringkan, diayak, lalu dipadatkan ulang. Tanah di lapangan sudah dipadatkan bertahun-tahun oleh lalu lintas, beban bangunan, atau proses alam. Selisih itu yang menentukan pilihan pengujian.

Beban standar dan arti angka CBR dalam persen

CBR adalah perbandingan, bukan nilai beban mutlak. Alat uji menekan piston berpenampang 3 inci persegi, sekitar 19,35 cm², ke permukaan tanah. Beban yang diperlukan untuk mencapai penetrasi 0,1 inci atau 2,54 mm dan 0,2 inci atau 5,08 mm dibandingkan dengan beban standar batu pecah California: 70,3 kg/cm² pada penetrasi 0,1 inci dan 105,5 kg/cm² pada penetrasi 0,2 inci.

Hasil bagi beban uji dan beban standar, dikalikan seratus, menjadi nilai CBR. Tanah dengan CBR 10 persen memerlukan beban sepersepuluh beban standar untuk penetrasi yang sama. Yang dipakai umumnya nilai pada 0,1 inci; bila nilai 0,2 inci lebih tinggi, kurva perlu diperiksa karena permukaan benda uji tidak seragam. Pada permukaan tidak rata, bagian awal kurva cekung dan perlu dikoreksi sebelum nilai dibaca.

CBR laboratorium: benda uji dipadatkan di dalam mold

Pengujian laboratorium dimulai dari contoh tanah di lokasi yang dikeringkan, dipisahkan butir kasarnya, dan diatur kadar airnya. Contoh dipadatkan ke dalam mold silinder 6 inci untuk material dengan butir hingga 3/4 inci, atau mold 4 inci untuk material lebih halus. Pemadatan dilakukan lapis per lapis dengan penumbuk, mengikuti tingkat energi Proctor standar atau Proctor modifikasi sesuai spesifikasi.

Setelah dipadatkan, mesin tekan menekan piston ke permukaan benda uji, sementara dial ukur mencatat penetrasi tiap tingkat beban. Karena kadar air, kepadatan, dan tinggi benda uji dikendalikan, hasilnya dapat diulang dan dibandingkan antar contoh; sifat itulah yang membuatnya berguna untuk memilih material, bukan mengukur tanah yang sudah ada.

Angka CBR laboratorium selalu terikat pada kepadatan kering yang dicapai dan kadar air saat pengujian. CBR 6 persen pada 95 persen kepadatan kering maksimum tidak sama artinya dengan CBR 6 persen pada 100 persen. Rincian lingkup pekerjaannya ada pada halaman jasa CBR tanah.

CBR lapangan: pengukuran langsung pada lapisan yang ada

Pengujian CBR lapangan diatur dalam SNI 1738:2011. Rangkaian alat dipasang di atas lapisan yang dinilai, dengan reaksi dari truk atau alat berat di dekatnya. Peralatan utamanya dongkrak, proving ring, piston dengan pipa tambahan, pelat beban, dan dial ukur. Pipa tambahan memungkinkan piston mencapai elevasi di bawah permukaan, sehingga pengujian dapat dilakukan pada kedalaman rencana.

Permukaan titik uji diratakan dan dibersihkan dari material lepas. Pelat beban dipasang untuk mewakili berat perkerasan di atasnya; tanpa beban penahan hasilnya tidak sebanding dengan kondisi setelah struktur berdiri. Pembebanan diberikan bertahap dan penetrasi dicatat pada interval yang sama seperti pengujian laboratorium.

Tiga hal membedakan hasilnya dari laboratorium. Tanah tidak dipadatkan ulang, sehingga angkanya mencerminkan kepadatan yang benar-benar ada. Kadar air adalah kadar air setempat, tanpa rendaman buatan. Pengujian berlangsung di lokasi, sehingga kondisi permukaan, cuaca, dan keterbatasan ruang ikut berpengaruh. Pada jalan panjang, titik uji per segmen ditentukan dengan patokan stasiun dan elevasi dari jasa pemetaan topografi.

Perbandingan CBR laboratorium dan CBR lapangan

Tabel berikut merangkum perbedaan keduanya pada aspek yang paling menentukan bagi perencanaan.

AspekCBR laboratoriumCBR lapangan
Objek ujiContoh tanah terganggu yang dipadatkan ulang di dalam moldLapisan tanah asli di lokasi, tanpa pemadatan ulang
Kondisi saat ujiKadar air dan kepadatan diatur; dapat direndam atau tidakKadar air dan kepadatan setempat; tanpa rendaman
PeralatanMold, penumbuk, mesin tekan, pelat beban, dial ukurTruk sebagai reaksi, dongkrak, proving ring, pipa tambahan
Waktu pengerjaanBeberapa hari, termasuk persiapan contoh dan perendamanPuluhan menit per titik setelah alat dan reaksi siap
KeluaranNilai CBR pada kepadatan dan kadar air tertentuNilai CBR pada kondisi lapisan yang ada saat diuji
Kegunaan utamaMemilih material timbunan, desain tebal perkerasan, kendali mutuMenilai tanah dasar existing, memeriksa pemadatan, desain lapis tambah
KeterbatasanTidak mewakili tanah yang sudah padat bertahun-tahunHanya mewakili titik uji; dipengaruhi cuaca dan kadar air permukaan

Soaked, unsoaked, dan pengaruh kepadatan

Pengujian laboratorium dapat dilakukan dalam kondisi direndam atau tidak. Pada kondisi direndam, benda uji dibenamkan dalam air beberapa hari dengan pelat beban di atasnya, lalu diuji dalam keadaan jenuh. Cara ini meniru kondisi terburuk, yaitu tanah dasar yang terendam tanpa drainase. Pada kondisi tidak direndam, benda uji diuji pada kadar air saat dipadatkan. Selisih keduanya bisa besar pada tanah berbutir halus, dan itulah yang menunjukkan kehilangan kekuatan akibat air.

Perendaman juga memberi keterangan tentang pengembangan. Benda uji yang mengembang menandakan lempung aktif, dan angka itu perlu dicatat karena berpengaruh pada kerataan lantai. Pengujian lapangan tidak dapat menilai potensi pengembangan material.

Kepadatan berpengaruh langsung dan tajam terhadap nilai CBR. Material yang sama pada kepadatan kering lebih tinggi memberi nilai CBR jauh lebih besar karena partikelnya saling mengunci. Karena itu, CBR lapangan yang rendah pada lapisan baru dipadatkan sering menandakan pemadatan yang belum mencapai target, bukan material buruk.

Korelasi kasar CBR lapangan dengan DCP

Nilai CBR di lapangan sering diperkirakan dengan Dynamic Cone Penetrometer atau DCP. Alat ini menumbuk konus 60 derajat dengan palu 8 kg dari tinggi jatuh 575 mm, dan kedalaman penetrasi per tumbukan dicatat. Karena ringan dan cepat, DCP dapat dipakai pada banyak titik sehari sehingga pola sebaran tanah sepanjang jalur lebih mudah terbaca.

Hubungan antara laju penetrasi DCP dan CBR bersifat empiris dan umumnya logaritmik. Hubungan itu bukan sifat fisik tanah, melainkan hasil regresi, sehingga untuk angka desain sebaiknya dikalibrasi dengan beberapa titik CBR lapangan di lokasi yang sama. DCP juga terhenti pada lapisan berbutir kasar atau benda keras, sehingga jangkauannya terbatas.

Untuk membaca susunan lapisan sampai kedalaman lebih besar, pengujian penetrasi konus sesuai SNI 2827:2008 memberi profil menerus, seperti pada jasa sondir tanah. Perlawanan konus bukan nilai CBR; konversinya juga melalui korelasi. Perbedaan cara kerja kedua alat ini diuraikan pada perbedaan sondir dan boring.

Kapan masing-masing pengujian dipakai

Pengujian laboratorium dipakai ketika yang dinilai adalah material, bukan tempat. Contoh paling jelas adalah pemilihan sumber borrow untuk timbunan jalan: beberapa jenis tanah dari beberapa lokasi diuji pada kepadatan sama, lalu hasilnya dibandingkan. Pengujian ini juga menjadi dasar tebal perkerasan jalan baru, mengukur peningkatan kekuatan pada stabilisasi semen atau kapur, dan masukan perencanaan lantai kerja gudang di atas timbunan. Batasnya jelas: hasilnya hanya berlaku untuk material yang dipadatkan seperti dalam benda uji.

Pengujian lapangan dipakai ketika yang dinilai adalah kondisi yang sudah ada. Contoh paling sering adalah tanah dasar jalan lama yang akan dilebarkan atau ditambah lapis perkerasan. Tanah itu sudah menerima beban lalu lintas bertahun-tahun dan kepadatannya lebih tinggi daripada yang dicapai benda uji laboratorium, sehingga angka laboratorium terlalu rendah dan perkerasan dirancang lebih tebal dari kebutuhan.

Pengujian lapangan juga dipakai memeriksa hasil pemadatan tiap lapisan timbunan, menilai tanah dasar lantai gudang atau lantai pabrik dengan galian timbunan tipis, serta memberi gambaran cepat pada jalan kerja dan area penumpukan sementara. Bila perencanaan membutuhkan modulus elastisitas atau daya dukung yang diukur langsung, pengujian beban pelat dipakai sebagai pelengkap melalui jasa uji plate bearing, karena CBR merupakan ukuran empiris.

Kesalahan umum yang mengubah kesimpulan

Kesalahan paling sering adalah memakai CBR laboratorium untuk menilai tanah dasar yang sudah padat bertahun-tahun. Benda uji dibuat dari tanah yang dipadatkan ulang pada energi tertentu, sementara tanah di lokasi sudah lebih rapat, sehingga nilai desain terlalu rendah dan perkerasan dirancang berlebihan. Kesalahan sebaliknya juga terjadi: memakai CBR lapangan untuk menilai material timbunan yang belum dipadatkan, lalu menyimpulkan materialnya tidak memenuhi syarat, padahal angka rendah itu mencerminkan kepadatan yang belum jadi.

Kesalahan berikutnya adalah membandingkan angka dari kondisi tidak setara, misalnya CBR laboratorium pada 95 persen kepadatan dengan CBR lapangan pada permukaan yang belum dipadatkan penuh, atau memakai hasil tidak direndam untuk tanah dasar yang drainasenya buruk. Satu titik di lahan urugan tidak seragam juga sering digeneralisasi. Pengujian pada musim kering di permukaan yang mengeras dapat memberi angka lebih tinggi daripada kondisi basah, sedangkan desain berlaku sepanjang umur layanan.

Kebutuhan dokumen dan kualifikasi penyusun laporan sebaiknya dipastikan lebih dahulu, terutama bila hasilnya dilampirkan pada perizinan seperti diuraikan pada syarat uji tanah PBG. Untuk bangunan yang bebannya diteruskan ke lapisan lebih dalam, penyelidikan dilanjutkan dengan pengeboran seperti pada jasa boring SPT, karena CBR tidak dirancang menilai daya dukung pondasi dalam.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa perbedaan utama CBR laboratorium dan CBR lapangan?

CBR laboratorium diukur pada contoh tanah yang dipadatkan ulang di dalam mold, dengan kadar air dan kepadatan yang dikendalikan. CBR lapangan diukur langsung pada lapisan yang sudah ada, tanpa pemadatan ulang dan tanpa rendaman. Angka laboratorium menggambarkan potensi material, angka lapangan menggambarkan kondisi nyata di lokasi.

Kapan CBR lapangan lebih tepat daripada CBR laboratorium?

Ketika yang dinilai adalah tanah dasar yang sudah ada dan sudah padat, misalnya tanah dasar jalan lama yang akan ditambah perkerasan, atau tanah dasar lantai gudang setelah pemadatan akhir. Pemadatan ulang di laboratorium justru menghilangkan kepadatan yang sudah terbentuk, sehingga hasilnya terlalu rendah.

Apakah CBR lapangan perlu direndam?

Tidak. Pengujian lapangan mengikuti SNI 1738:2011 dan diukur pada kadar air setempat tanpa rendaman buatan. Karena itu, hasil pada musim kering dapat lebih tinggi daripada saat basah. Bila tanah dasar akan sering terendam, hasilnya sebaiknya dilengkapi pengujian laboratorium kondisi direndam.

Apakah nilai DCP sama dengan CBR lapangan?

Tidak. DCP mengukur laju penetrasi per tumbukan, bukan beban penetrasi seperti alat CBR. Nilai CBR dari DCP diperoleh melalui persamaan empiris, sehingga sifatnya perkiraan. Untuk angka desain, korelasi itu perlu dikalibrasi dengan beberapa titik CBR lapangan di lokasi yang sama.

Mengapa CBR laboratorium sering lebih rendah dari CBR lapangan?

Karena benda uji dipadatkan ulang dengan energi tertentu, sementara tanah di lapangan sudah menerima pemadatan berulang dari lalu lintas dan beban di atasnya selama bertahun-tahun. Pada tanah berbutir, pemadatan berulang itu dapat menghasilkan kepadatan lebih tinggi daripada yang dicapai benda uji.

Apakah nilai CBR bisa dipakai untuk menghitung daya dukung pondasi?

Tidak secara langsung. CBR dikembangkan untuk menilai tanah dasar perkerasan dan lantai kerja, bukan untuk menghitung daya dukung pondasi. Untuk pondasi, parameter diambil dari pengujian penetrasi konus, SPT, atau pengujian beban pelat, lalu dianalisis dengan metode daya dukung yang sesuai.

Foto utama: Irvin calicut, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons.

Artikel & layanan terkait

Similar Posts